Smallpox (Cacar) dipercaya ilmuan
telah ada sekitar 10.000 tahun yang lalu di Afrika kemudian menyebar ke daratan
lainnya. Wabah yang mematikan pernah
terjadi di Yunani pada 430 SM dimana korban tewas akibat penyakit ini sekitar
30 ribu jiwa. Di benua Amerika, Smallpox berkontribusi pada penurunan populasi
suku Inca dan Aztec. Sedangkan pada abad ke-18, setiap tahun di Eropa 400 ribu
orang tewas karenanya. Ilmuan meyakin bahwa Smallpox telah membunuh lebih dari 300
juta orang di seluruh dunia pada abad ke-20.
A child with smallpox in Bangladesh in 1973. The bumps filled with thick fluid and a
depression or dimple in the center are characteristic. (source :
wikipedia)
Cacar disebabkan oleh virus Variola major dan minor. Variola minor adalah
penyakit yang lebih ringan dengan nama lain :Cottonpox, Whitepox, Milkpox, Cuban itch dengan tingkat kematian 1%
pada penderitanya. Sedangkan Variola
major lebih berbahaya dengan persentase kematian 30-35%. Penyakit ini dapat ditularkan melalui batuk, bersin, dan sentuhan
langsung cairan luka pasien atau pada benda yang telah terkontaminasi. Gejala
yang ditimbulkan mulai demam tinggi, merasa tidak enak badan, muntah, sakit
kepala, sakit punggung, diare dan munculnya ruam yang kemudian membesar dan
berisi cairan diseluruh tubuh. Hal ini dapat berlajut pada pendarahan, gagal
fungsi organ hingga kematian. Bagi penderita yang berhasil sembuh akan memiliki
bekas luka seumur hidup.
Edward Jenner (1749-1823) dikenal
sebagai “Bapak Vaksin” merupakan dokter asal Inggris yang menemukan vaksin
Cacar variola. Orang-orang pada masa itu paham bahwa jika seseorang terkena
cacar dan sembuh maka ia tidak akan terkena untuk kedua kalinya. Jenner
berspekulasi bahwa cowpox/ cacar sapi (cacar
yang ditularkan sapi pada manusia, tidak berbahaya daripada Smallpox) dapat
memproduksi kekebalan tubuh terhadap smallpox. Pada tahun 1796, dia memasukkan
nanah dari Sarah Nelmes seorang pemerah susu yang menderita Cowpox kedalam luka
yang dibuat pada lengan seorang anak bernama James Phipps. Seminggu kemudian
Phipps dipaparkan pada virus Smallpox dan dia kebal atas cacar tersebut. Untuk
lebih meyakinkan, Jenner melakukan eksperimen tersebut pada beberapa anak lain
termasuk putranya sendiri. Namun, penemuan Jenner ini mendapat tentangan dan juga
cemooh dari peneliti lainnya, kala itu, karena Jenner tidak dapat menjelaskan
secara pasti penyebab kekebalan tersebut. Baru setelah 30 tahun kematiannya
vaksin Smallpox diproduksi di Inggris dan Wales.
Di Indonesia sendiri vaksin Variola
mulai diberikan pada tahun 1956 dan pada tahun 1974 tidak ditemukan kasus lagi.
Perlu diketahui bahwa kasus Smallpox terakhir ditemukan pada 1977 di Somalia dan
WHO (World Health Organization) telah
menyatakan dunia bersih dari virus Variola
pada tahun 1980 setelah sukses dengan program vaksinasi.
Sumber:
https://www.sahealth.sa.gov.au/wps/wcm/connect/public+content/sa+health+internet/health+topics/health+conditions+prevention+and+treatment/infectious+diseases/smallpox/smallpox+-+including+symptoms+treatment+and+prevention

Komentar
Posting Komentar